Oleh Hojot Marluga
fnews – Anggota DPD RI dari Provinsi DKI Jakarta, Sabam Sirait, telah dimuliakan Tuhan, dalam usia 85 tahun. Politikus ulung itu menghembuskan nafas terakhir, Rabu, 29 September 2021, Pukul 22.37 WIB di RS Siloam Karawaci. Pria kelahiran Pulau Simardan, Tanjungbalai, Sumatera Utara, 13 Oktober 1936 ini adalah peraih penghargaan Bintang Mahaputra Utama. Beliau dikenal sebagai sosok yang concern dalam dunia politik. Terbukti, di usia senjanya, almarhum masih dipercaya sebagai Anggota DPD RI periode 2019-2024.
Disebut penisepuh, karena almarhumlah satu-satunya pejabat di negara ini yang masih menjabat, 85 tahun. Almarhum layak disebut pinisepuh politisi Indonesia. Dia sudah berpolitik di tujuh era kepemimpinan nasional, sejak era Soekarno hingga era Joko Widodo.
Saya beberapa kali bertemu, wawancara dengan almarhum. Tahun 2018, ketika saya menulis biografi 80 Tahun Ir Humuntar Lumban Gaol, saya mewawancarainya. Hasil wawancara jadi kata sambutannya di buku tersebut. Dia menyebut, “Saya ini HKBP Tulen. Saya tak pernah mengundurkan diri dari HKBP,” ujarnya. Ucapan itu saya kira karena dia merasa HKBP tak pernah meminta gagasan pemikirannya lagi.
Inilah wawancara yang kemudian pengantarnya di buku Ir Humuntar Lumban Gaol berjudul “HIDUPKU INI ADALAH ANUGERAH.”
Kami Mengabdi Bagi Bangsa
Sabam Sirait
Saya lahir dan besar di Pematang Siantar (sebenarnya di Asahan). SD waktu itu disebut SR sampai SMP di Pematang Siantar. Lalu, saat SMA di Kota Medan. Kemudian dari sana ke Jakarta untuk kuliah. Tahun 50-an saya ke Jakarta. Cita-cita waktu itu ke Universitas Indonesia karena sudah sering baca beritanya di koran. Di Jakarta tujuan pertama saya adalah rumah amanguda saya, Letjen (Purn) TB Simatupang. Padahal, saat itu saya datang tak memberitahu terlebih dahulu kepadanya.
Beliau sangat ramah dan memberi nasihat untuk berjuang di Jakarta. Rumah beliau waktu itu di kawasan Monas, bekas rumah pejabat militer Belanda. Selama tinggal di sana saya sering mendengar tokoh-tokoh besar yang datang ke rumahnya untuk berdiskusi atau meminta nasihat.
Oleh karena itu, saya sering-sering mendengar perbincangan mereka, bahkan sering diajak untuk berbincang-bincang, dan diperkenalkan para tokoh tersebut, salah satunya Johanes Laimena, di kemudian hari menjadi ketua saya di Parkindo.
Sesekali menyajikan minum para tamu. Belakangan rumah TB Simatupang itu diambil alih pemerintah menjadi bagian parkir Masjid Istiqlal, oleh pemerintah ketika itu memberi rumah pengganti di Jalan Diponegoro. Tetapi, menyusul kepindahan TB Simatupang, saya telah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan tinggal di Asrama Mahasiswa di Jalan Pegangsaan Timur.
Jika mengingat kebaikan TB Simatupang, saya kira teman-teman sebantaran saya yang datang ke Jakarta di priode tahun 50-an pasti mengalami hal yang sama, tumpangan dari keluarga. Saat itu orang Batak di Jakarta masih hitungan jari.
Saat mahasiswa, saya aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Termasuk aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Jakarta. Dan pergerakan di organisasi mahasiswa waktu itu dinamis. Saya sendiri kemana-mana membangun hubungan dengan berbagai mahasiswa. Dari pergerakan mahasiswa, saya kemudian mulai bersentuhan dengan politik praktis dan menjadi pengurus partai. Ketika itu aktif di Partai Kristen Indonesia (Parkindo), baru belakangan menjadi Sekjen.
Sayalah yang menandatangani meleburnya Parkindo dengan beberapa partai menjadi satu dalam Partai Demokrasi Indonesia. Berfusi dengan beberapa partai yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) dan Partai Katolik. Ketika itu saya juga menjadi Sekeretaris Jenderal. Karier saya menjadi politisi dari DPRD, kemudian menjadi Anggota DPR RI hingga 26 tahun.
Sementara di Jakarta saya bergereja di HKBP. Bapak saya di Pematang Siantar adalah salah satu ruas HKBP yang sangat fanatik dengan HKBP. Saya sendiri terdaftar di HKBP Kernolong sebagai jemaat. Sebagai warga HKBP saya pertama kenal Humuntar Lumban Gaol ketika dia menjadi panitia Jubileum 125 Tahun HKBP. Bukan ketika mahasiswa ketika kuliah di UGM, saya dengar dia anggota GMKI Yogya. Jadi, di masa itu nama Humuntar Lumban Gaol dikenal sebagai salah satu anggota jemaat HKBP yang berhasil, pejabat di pusat.
Saya pribadi memang tak pernah menjadi panitia atau tak pernah diminta menjadi panitia di HKBP. Saya kira di masa itulah nama Humuntar menjadi tersohor sebagai seorang putera Batak yang berhasil, apalagi waktu itu berhasil mengundang Soeharto ke Tarutung untuk mengikuti puncak Jubileum 125 Tahun HKBP, dan dia sering diwawancara di media dan TVRI waktu itu. Belum lagi menjadi salah satu orang yang berkerja di lingkaran terdekat Soeharto.
Sebenarnya, soal Soeharto, saya juga dekat dengan Soeharto, beberapa kali berbincang dan akrab. Tetapi, soal ideologi politik, kami berbeda. Di masa Soeharto saya dua kali ditangkap, entah alasan apa waktu itu, tetapi kemudian dibebaskan. Barangkali saya dianggap orang yang selalu melawan pemerintah masa itu. Memang saya mengambil jarak dengan pemerintah, bahkan tak mau menjadi Pengawai Negeri.
Hanya satu cerita, misalnya, ketika hendak mendirikan Lembaga Administrasi Negara, saya diajak ketika itu untuk membangunnya. Tetapi, yang saya katakan waktu itu bahwa saya bisa terlibat, tetapi dengan syarat, jika lembaga itu sudah jadi, saya harus berhenti. Padahal, dijanjikan untuk menjadi sekjen di lembaga tersebut. Namun, dengan kokoh saya katakan, cukup. “Cukup saya hanya ikut membangun.” Tetapi, itulah pilihan saya, tak mau. Sedangkan saudara Humuntar mengabdi untuk bangsa ini lewat kariernya sebagai Pegawai Negeri hingga kemudian puncak kariernya menjadi Irjenbang.
Yang saya lihat diri saudara Humuntar, dia memberi dirinya sebagai pegawai negeri untuk mengabdi bagi bangsa. Sedangkan saya juga memilih mengabdi untuk negara, tetapi bukan dibawah naungan pemerintah. Kesamaan kami adalah pengabdian bagi negara tetapi dari jalur berbeda. Saya melihat dia berbakat bekerja dengan pemerintah, sedangkan saya tak punya bakat itu.
Dia berbakat menjadi orang Istana, sedangkan saya tak berbakat, malah jadi oposisi. Tentu, sekali lagi itu soal pilihan hidup, beliau memilih itu, sedangkan saya memilih berbeda. Tak ada yang salah di sana. Tak mungkin disebut ini yang benar, dan itu yang salah. Malah, saya sangat menghormati, bahkan salut dengan orang-orang yang memberi dirinya bekerja dibahwa kontrol pemerintah.
Sekali lagi saya ingin menempatkan diri dengan pemerintah, sebagai mitra pemerintah. Menutup sambutan ini, di ulangtahun 80 Ir Humuntar Lumban Gaol, saya teringat kisah perjumpaan saya dengan Jawaharlal Nehru, pemimpin nasionalis India dan juga merupakan Perdana Menteri India yang pertama setelah India merdeka.
Nehru, mengatakan, kalimat pendek, bahkan kata-kata itu terus tergiang. “Ketika umur makin uzur yang tak boleh dilupakan adalah makin dekat dengan Tuhan.” Tentu mengenal Tuhan itu universal. Saya kira ini juga berlaku untuk saya dan semua sahabat-sahabat dan orang-orang yang telah diberikan Tuhan hayat yang panjang. Saya sendiri saat ini sudah berusia 81 tahun. Pesan moralnya, di hari tua mesti ingat Tuhan. Akhirnya, sebagai teman saya menyampaikan untuk beliau, selamat berjubilaris.
(Selamat Jalan Bapak Sabam Sirait, Politisi Pengusung Politik Itu Suci) ***
