Oleh Padmono SK
SAYA mengenal Bang Sabam Sirait sejak akhir dasawarsa 1970-an. Semenjak masih mahasiswa lalu menjadi staf redaksi Berita Oikoumene DGI (kini PGI) tahun 1977 saya sudah mendengar namanya dan beberapa kali bertemu. Tetapi perjumpaan di awal 1979 membawa saya semakin dekat dengannya. Perjumpaan itu terjadi di Konsultasi Teologi di Tentena, Sulawesi Tengah.
Di suatu malam setelah semua sesi selesai, saya ikut terlibat dalam percakapan sebuah kelompok kecil. Di situ ada Bang Sabam Sirait, Bang Moxa Nadeak (wartawan Sinar Harapan), Th. Sumartana, George Aditjondro (masih menjadi wartawan Tempo), Bang Binsar Sianipar, beberapa staf DGI, dan saya yang paling muda (sudah lulus dari STT Jakarta).
Berbagai hal dibicarakan dalam kelompok tersebut. Lalu setelah makan malam dengan Sogili (belut dari Danau Poso), kami keluar kompleks GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) mencari hiburan malam. Satu-satunya tempat hiburan adalah gedung bioskop. Hanya ada satu-satunya gedung bioskop di kota kecil itu. Ketika kami sampai di sana baru saja tutup. Lalu dibujuklah pemilik usaha bioskop untuk membukanya. Bioskop pun diputar lagi dan kami menonton.
Ada beberapa anggota masyarakat yang ikut masuk dan menonton. Entah operatornya sudah pulang atau karena apa, roll film yang diputar terbalik-balik. Sehingga jalan ceritanya berputar-putar gak karuan. Tetapi tak apalah, yang penting hepi! Kami bisa tertawa lepas, melepas penat setelah seharian berdiskusi dan mendengarkan ceramah! Pemilik usaha itupun tidak rugi karena diberi ganti rugi. Kini semuanya telah tiada, dan Bang Sabam yang terakhir menghadap Tuhan dari para senior tersebut.
Itulah perjumpaan saya. Selanjutnya saya lebih akrab ketika menjadi wartawan Sinar Harapan ditugaskan untuk meliput di DPR. Hampir setiap hari kami bertemu Bang Sabam di lantai 9 gedung lama. Beliau satu kamar dengan Pak VB da Costa. Lantai itu merupakan lantai anggota DPR dari Fraksi PDI. Kalau Fraksi Karya Pembangunan (Golkar) di lantai 6 dan PPP di lantai 4. Lantai 5 untuk Fraksi ABRI. Taka da wartawan yang keluyuran di lantai 5, karena fraksi ABRI tidak ubahnya sebagai jawatan perwakilan rakyat. Pernyataan hanya dikeluarkan dalam konferensi pers resmi, itupun tidak boleh bertanya aneh-aneh.
Bang Sabam dan Pak VB Da Costa adalah anggota DPR dari fraksi PDI. Ada 10 orang anggota DPR dari fraksi PDI tetapi kedua orang itulah yang diakui “vocal”. Keduanya merupakan sumber berita yang sangat digemari wartawan. Pernyataan keduanya menjadi berita bagus bagi wartawan. Maka para wartawan pun sangat dekat dengan mereka. Di kamar mereka ada kulkas dan di dalam kulkas selalu ada bir. Keduanya peminum bir dan wartawan sering diajak minum di kamar itu. Oh iya, Bang Sabam minum bir untuk pengobatan.
Itu DPR periode 1977 – 1982. Waktu itu Bang Sabam adalah Sekjen DPP PDI. Sebelumnya beliau adalah Sekjen DPP Parkindo (Partai Kristen Indonesia). Ketika Parkindo difusikan ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI) tahun 1973 bersama PNI, Partai Katolik, Murba, dan IPKI, Parkindo mendapat jatah sekjen karena memiliki suara untuk DPR lebih banyak dari partai Katolik, IPKI dan Murba.
Ketua Umum PDI dipegang oleh PNI yang jumlah suaranya terbanyak. Di partai hasil fusi itulah peranan Sabam sangat menentukan. Beliau memang manajer organisasi yang handal. PDI selama itu terus diguncang dengan perpecahan. Itu memang masalah lama yang diwariskan oleh PNI. Perpecahan, perebutan kekuasaan, dan konflik merupakan makanan sehari-hari PDI. Selalu saja terjadi pengelompokan.
Sepertinya PNI mewariskan sikap yang permanen di kalangan kadernya: kalau tidak mau mendukung jadilah oposisi. Sikap hitam putih seperti itulah yang diwariskan ketika PNI berfusi ke PDI. Akibat konflik yang berkepanjangan itu, PDI menjadi pasien tetap dari Kopkamtib. Tak ada berita politik tentang PDI kecuali dari humas Kopkamtib.
Kenyataan itu pula yang menjadi alasan penguasa untuk terus mengerdilkan PDI dari pemilu ke pemilu. Bang Sabam berselancar di atas gelombang itu. Dia mengendalikan partai agar tidak terpuruk dan tetap menjadi partai yang memiliki integritas. Bahkan ketika Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara tahun 1978 mengeluarkan SK 70/1978 Pedoman Penyiaran Agama dan 77/1978 tentang Bantuan Luar Negeri, Bang Sabam tak hanya harus menghadapi Pemerintah tetapi juga menghadapi kawan-kawannya sendiri di PDI yang menganggap bahwa SK tersebut tak ada urusannya dengan Partai. Itu memang sikap konyol partai yang harus dihadapi Bang Sabam. Beliau gigih melawan Pemerintah walau harus berhadapan dengan orang-orang di partainya sendiri.
Puncak karyanya di DPR bersama VB da Costa adalah memmproduk KUHAP. Hingga tengah malam mereka berdebat dengan orang-orang dari fraksi Golkar dan ABRI. Dalam Pemilu 1982, Bang Sabam tak terpilih lagi. Rekayasa politik begitu menjijikkan dengan menggunakan preman untuk mengacaukan kampanye pemilu. Namun dalam sistem politik yang monolitik dan pemerintahan yang diktatorial Bang Sabam masih terselamatkan dengan bergeser dari DPR ke DPA.
Kendati tak lagi di DPR, kontak saya dengan Bang Sabam tak terputus. Beliau sebagai Ketua Yayasan Komunikasi, jelmaan Parkindo dan saya sebagai Sekum DPP GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), membuat kami lebih dekat dan lebih intensif dalam diskusi tentang politik. Hanya di tahun 1986 ketika PDI akan melakukan Kongres II di Wisma Haji Pondok Gede, ada sesuatu yang membuat hubungan kami kurang enak.
Banyak teman eks Parkindo yang menatap saya dengan marah, curiga atau apapun. Ketika itu ada kekuatan dalam pemerintahan yang mau memaksakan kehendak dan mencampuri urusan PDI. Kekuatan itu akan meruntuhkan dominasi kaum tua dan para deklarator PDI dan menggantikannya dengan yang lebih muda.
Kekuatan itu mencalonkan Drs Surjadi sebagai calon ketua umum. Naluri kewartawanan saya terusik. Kalau Surjadi menjadi Ketua Umum PDI, maka Bang Sabam pasti akan digeser. Maka saya berdiskusi dengan Moxa Nadeak, senior saya di Sinar Harapan maupun di GAMKI, siapa generasi sesudah Bang Sabam. Dia katakan, “saya”. Tetapi Bang Moxa adalah wartawan yang tak mau terjun ke politik praktis. Dia tak suka dengan pemerintah Orde Baru dan tidak mau bersinggungan dengan pejabat pemerintahan.
Lalu saya ceritakan bahwa Surjadi sebagai calon Ketua Umum PDI semakin kuat dan ada kekuatan di pemerintahan yang tak mungkin dilawan. Maka saya dan Bang Moxa menyusun daftar eks Parkindo yang akan duduk di kepengurusan PDI bila Surjadi menjadi Ketua Umum. Itu kami lakukan karena Surjadi meminta langsung ke saya nama-nama eks Parkindo untuk mendampinginya di DPP PDI. Kendati demikian nama Bang Sabam tetap saya usulkan ke Surjadi. Ketika Surjadi tidak melihat nama saya dalam daftar dia bertanya, “Kok nama kamu gak ada, Dik? Kamu gak mau?” Saya jawab, saya masih wartawan. Saya akan bantu sebagai wartawan. Itu percakapan saya dengan Surjadi di kamarnya di Wisma Haji Pondok Gede.
Kongres gagal dan kepengurusan DPP PDI disusun oleh Pemerintah. Dugaan saya benar, Bang Sabam tidak ada dalam jajaran DPP PDI. Itulah yang membuat beberapa kawan eks Parkindo marah ke saya, seolah-olah saya yang menggagalkan Bang Sabam. Dari eks Parkindo waktu itu muncul nama dr Sukowaluyo, Ketua Umum DPP GAMKI, bersama beberapa orang lagi.
Bahkan Sekjen PDI yang seharusnya menjadi jatah eks Parkindo, jatuh ke eks Partai Katolik. Semakin jelas terkuak kekuatan mana yang memainkan PDI. Saya ikuti gerak PDI, dan semakin kelihatan bahwa kekuatan yang memainkan PDI itu akan membenturkan PDI dengan Pemerintahan Soeharto. Surjadi tak mau dibenturkan, tetapi kekuatan itu memainkan yang lain sehingga melahirkan PDIP. Saya sadar permainan-permainan seperti itu hanya sesaat, siapa mendapat apa!
Saya mundur karena kecenderungan politik yang mulai menampakkan jati dirinya, politik transaksional. Banyak orang baik tersingkir dalam situasi seperti itu. Tetapi Bang Sabam tetap melaju. Kenapa? Apakah Bang Sabam terjebak dalam transaksional? Menurut saya tidak! Kalau untuk menjadi sesuatu harus bisa menjawab pertanyaan “wani pira?”, Bang Sabam tidak akan mau menjawabnya. Saya tahu betul Bang Sabam memiliki kepercayaan diri dan kemampuan yang tinggi dan beliau memiliki integritas.
Kemampuannya memainkan peran politik mengalahkan transaksional yang terjadi di partai politik. Kawan dan lawan politiknya mengakui integritas dan kemampuannya berpolitik. Beliau tidak akan membeli jabatan atau kedudukan. Ketika menjadi anggota DPR periode 1977 – 1982, Bang Sabam hanya memiliki sebuah mobil yang digunakan untuk mengantar anak-anaknya sekolah dan berkegiatan. Mobilnya itu tidak pernah masuk ke halaman rumahnya, karena jalan masuk ke rumahnya hanya dapat dengan berjalan kaki.
Waktu itu isteri Bang Sabam, Kak Sondang Sidabutar masih menyelesaikan dokternya di Medan. Bang Sabam tinggal dengan dua anak lelakinya, Ara dan adiknya. Dalam mendidik anak-anaknya Bang Sabam dibantu sopirnya dan pengawasan kepada anak-anaknya, dilakukan dengan bertelepon. Semuanya berjalan dengan lancar.
Integritas dan kemampuan memainkan peran secara jeli itulah yang menyelamatkan Bang Sabam dalam berselancar di badai politik. Setelah reformasi, saya mundur dari kegiatan politik praktis dan tidak pernah lagi bertemu muka dengan Bang Sabam. Saya hanya mengikutinya dari jauh.
Baru ketika 100 tahun Dr TB Simatupang bulan Januari 2020 saya berjumpa dengan beliau di lantai V Graha Oikoumene, Salemba Raya 10. Bang Sabam berjalan dengan tongkat menyapa saya, “Hai Padmono. Saya masih hidup”. Itu sapaan yang akrab. Suaranya masih penuh semangat dan tawanya lepas.
Kini tugasnya di dunia sudah selesai. Bang Sabam harus kembali ke alam keabadian bersama Tuhan. Anaknya, Maruarar yang dulu dididik melalui telepon ketika harus menjalankan kegiatannya, kini telah menggantikannya, sebagai politikus duduk sebagai anggota DPR dari PDIP. Juga ada menantunya mengikuti jejaknya sebagai politikus.
Tujuh presiden dikenalnya dan dalam berbagai gelombang politik Bang Sabam berhasil berselancar sebagai anggota DPD. Banyak hal yang diajarkannya dalam memainkan peran politik. Bagi saya Bang Sabam adalah guru politik yang baik. Kalimatnya yang tidak saya lupakan dan ini yang harus dipegang oleh anak-anak muda yang akan terjun ke dunia politik, “Jangan menunggu diberi! Berjuang dan rebut!” Yah, berpolitik memang tidak boleh menunggu belas kasihan orang lain. Berjuang dan merebut, karena kesempatan tidak akan datang dua kali”.
Selamat jalan Bang Sabam, berpulanglah ke alam keabadian dalam Tuhan! Tugasmu telah selesai dan biarkan generasi sekarang meneruskan perjuanganmu. ***
