Oleh Sarluhut Napitupulu
SAYA kenal Bang Sabam Sirait dan sudah berteman sejak tahun 1981 sampai dengan 1987 di Medan. Saat itu saya selain aktivis pemuda gereja, GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), saya Komisaris Kecamatan (Komca) Medan Baru DPC PDI Kota Medan, juga sekaligus pengurus Komisaris Kecamatan Medan Baru Yayasan Komunikasi (Yakoma – Wadah pengganti Parkindo yang telah fusi ke partai PDI tahun 1973). Sementara Bang Sabam kala itu Sekjen DPP PDI, dan juga Sekjen DPP Yakoma, yang bermarkas di Jalan Matraman Raya No 10 A Jakarta.
Adalah Pak Liat Lumban Gaol, Ketua DPD Yakoma Provinsi Sumatera Utara saat itu yang menugaskan dan memerintahkan saya bahwa jika Bang Sabam bertugas ke Medan, maka untuk mengurus segala sesuatunya dan menemaninya, mempersiapkan mobil penjemputan, kebutuhan selama bertugas, penginapannya, sampai kepulangan kembali ke Jakarta, saya yang urus.
Sebagai Ketua Yakoma Sumut, Pak Liat Lumban Gaol dalam mengurus Yakoma Sumut saat itu dibantu pengurus Yakoma lainnya yang eks Parkindo Sumut, antara lain Tarubar RH Simanjuntak, Buttu R Hutapea, Sahata Hutagalung, Daulat Sitorus, Drs FT Rajagukguk, Edison P Marpaung, Raya Marpaung, Tommy Marbun, dan lain lainnya. Sedangkan posisi saya dalam lingkaran kepengurusan Yakoma Sumut itu masih berusia muda hanya mendapat penugasan yang sifatnya umum.
Jika kedatangan dan tugas Bang Sabam ke Medan, terkait urusan Yakoma, maka seluruh para pengurus inti Yakoma se-Sumut saya teleponi agar hadir di Jalan Sei Bahorok No 3 Medan, kediaman Pak Liat Lumban Gaol, sebagai tempat pertemuan dengan Bang Sabam. Rumah Sei Bahorok No 3 semasa Pak Liat Lumban Gaol Ketua Yakoma Sumut menjadi sekeretariat dan markas Yakoma Sumut. Agenda pertemuan dengan Bang Sabam, selalu terkait konsolidasi dan pelaksanaan program – program Yakoma di Sumatera Utara.
Selain itu, agenda Bang Sabam juga melakukan program kaderisasi Yakoma di daerah-daerah se Sumut terutama basisnya Parkindo hasil pemilu 1971 dengan materi pengkaderan tentang apa dan bagaimana Yakoma pasca Parkindo yang telah melebur dalam fusi tahun 1973 menjadi partai PDI. Program kaderisasi ini adalah untuk menciptakan kader-kader Yakoma yang nantinya akan didistribusikan untuk mengisi posisi eks Parkindo di Partai PDI di semua tingkatan yang menjadi haknya.
Parkindo dalam Pemilu 1971, bernomor urut 6 dari 10 parpol peserta pemilu, lambangnya pohon terang dan lilin yang bersinar di dalamnya. Adapun slogan kampanye Parkindo pada pemilu 1971 itu adalah :”Gaba-gaba dohot lilin na marsinondang ima hita pillit”,”. Hasilnya, Parkindo secara nasional meraih suara sebanyak 733.359 atau sekitar 1,34 persen atau mendapat 7 kursi di parlemen. Parkindo tampil sebagai pemenang ke 6 dari 10 partai politik peserta pemilu 1971 tersebut.
Dalam menemani Bang Sabam melakukan kaderisasi tersebut, saya ditugaskan membagi buku – buku Kristen terbitan BPK Gunung Mulia, antara lain yang utama adalah buku Etika Kristen tulisan Dr J Verkuyl (seorang misionaris dan peneliti) tentang Etika Kristen terkait Ekonomi, Sosial Politik dan Etika Kristen lainnya. Buku – buku itu dibawa Bang Sabam dari Matraman.
Seperti diketahui, di masa Parkindo belum fusi melebur ke PDI, Bang Sabam menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Parkindo pada 1961 s/d 1967. Kemudian, menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Parkindo sejak 1967 s/d 1973. Lalu, saat fusi 5 partai politik pada 10 Januari 1973, Bang Sabam ikut sebagai deklarator berdirinya partai PDI. Dari hasil fusi itu, Bang Sabam diangkat menjadi Sekjen Koordinator DPP PDI pada 1973 s/d 1976. Selanjutnya menjabat Sekjen PDI sejak 1976 s/d 1986.
Pasca fusi tahun 1973, eks pimpinan Parkindo membentuk Yayasan Komunikasi sebagai wadah untuk kelanjutan eks Parkindo dan pembinaan dan penciptaan kader “Parkindo” yang akan mengisi kepengurusan di partai PDI di segala tingkatan. Karena setelah fusi, PDI sepakat pengisian pengurus di struktur PDI orangnya tetap berasal dari lima pintu masuk di setiap tingkatan. Yakni pintu eks PNI, pintu eks Parkindo, pintu eks Partai Katolik, pintu eks IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), dan pintu eks Murba (Musyawarah Rakyat Banyak).
Nah, untuk kader-kader yang masuk dari pintu eks Parkindo, penciptaannya melalui program pengkaderan Yakoma tersebut. Kader-kader Yakoma tidak mutlak mengisi posisi di PDI. Kader Yakoma ini juga bersaing dengan kader dari GAMKI, GMKI, PWKI dan organisasi pemuda Kristen lainnya, seperti pemuda gereja, untuk bisa masuk dalam posisi di PDI.
Selama mengurus Bang Sabam tugas di Medan-Sumut, oleh Bang Sabam, saya dibolehkan ikut semua pertemuan-pertemuan penting, bahkan pertemuan tertutup sekalipun, tapi saya tidak dibolehkan berbicara. Hanya mendengar saja. “Kamu selama satu tahun boleh ikuti setiap pertemuan apapun, tapi kamu tidak boleh bicara, hanya mendengar saja dan hasil pertemuan tak boleh bocor keluar, “ tegas Bang Sabam.
Perintah tersebut saya laksanakan. Pokoknya, selama setahun mengabdi, saya hanya diam saja dan mempersiapkan segala kebutuhan mereka. Namun, setelah setahun berlalu, Bang Sabam kemudian meminta saya untuk ikut bicara dalam setiap pertemuan. Bahkan saya dipaksa harus bicara apa saja yang ada dalam pikiran terkait materi pembicaraan.
Barulah saya sadari, setahun tak boleh bicara itu semacam metode untuk belajar bagaimana bicara di public dan dalam pertemuan – pertemuan. Dan di tahun kedua, dengan segala keberanian, saya akhirnya bisa dan mampu untuk ikut nimbrung dalam setiap diskusi atau percakapan dalam setiap pertemuan.
Sementara itu, jika kunjungan kerja Bang Sabam selaku Sekjen DPP PDI ke Medan dengan tugas partai PDI, maka tugas saya selain menyiapkan mobil kebutuhan adalah mengawal beliau selama tugas partai tersebut.
Suatu hari, pada tahun 1982, saat pemilu, saya mendampingi Bang Sabam kampanye ke Kabanjahe, Tanah Karo. Pada Pemilu 1982 tersebut, masa kampanye di Tanah Karo ini berbeda dengan daerah lainnya. Jika daerah lainnya masa kampanye mulai pukul 09.00 berakhir pukul 17.00, di Kabanjahe mulai kampanye pukul 12 malam sampai dini hari. Acara kampanye itu disebut dengan Perkolong-Kolong.
Karena udara dingin di Kabanjahe, saya menyiapkan minuman beralkohol rendah dalam botol dibungkus koran yang nantinya diminum Bang Sabam, sebagai obat untuk kakinya yang varises. Adapun teman saya dalam menemani Bang Sabam selama setiap kunjungan di Medan adalah Abang Tarubar RH Simanjuntak, yang juga wakil sekretaris Yakoma Sumut saat itu.
Ada cerita, bahwa pada kampanye PDI tahun pemilu 1982 di Medan, kami laksanakan di Lapangan Gajah Mada Medan. Saya sebagai pelaksana kampanye ketika itu, menghadirkan Bang Sabam sebagai juru kampanye Nasional. Dengan diiringi 1.000 becak dayung, Bang Sabam bersama Pak Liat Lumban Gaol naik becak dari Jalan Sei Bahorok No 3 Medan, depan markas Yakoma Sumut menuju Lapangan Gajah Mada Medan.
Inilah pertama kalinya PDI unjuk gigi kampanye di Medan dan mendapatkan respon positif dari masyarakat. Usai kampanye, saya diundang oleh petugas Ditsospol Sumut ke kantornya untuk bincang – bincang seputar kampanye di Lapangan Gajah Mada tersebut. Kemudian pada tahun 1983, usai Pemilu, DPC PDI Kota Medan melaksanakan Konperensi Cabang (Konpercab). Dalam konpercab tersebut, saya terpilih menjadi pengurus DPC PDI Kota Medan periode 1983 s/d 1988 sebagai Wakil Bendahara DPC PDI Kota Medan.
Lalu, pada 6 Februari 1987, Bang Tarubar RH Simanjuntak, yang juga Sekretaris DPD GAMKI Sumut – meninggal dunia karena sakit – disemayamkan di rumah orang tuanya di Jalan Jenderal Sudirman No.42 Medan – yang semasa hidupnya rumah tersebut dipakai juga sebagai Sekretariat DPD GAMKI Sumut.
Pasca Abang Tarubar meninggal, kemudian Pdt Marcus D Wakkary selaku Ketua DPD GAMKI pada awal 1988 melaksanakan Konperensi Daerah (Konperda) DPD GAMKI Sumut di Medan. Usai Konperda GAMKI tersebut, terpilih Efendy Naibaho sebagai Ketua DPD GAMKI Sumut dan Sarluhut Napitupulu sebagai Sekretaris DPD GAMKI Sumut untuk periode 1988 s/ d 1992.
Bang Sabam, menjabat Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sejak 1983 s/d 1988 dan 1988 s/d 1993. Suatu hari di tahun 1983, saat kunjungan kerja sebagai Anggota DPA ke Medan, saya tak lagi menyiapkan segala kebutuhan Bang Sabam, karena sudah disiapkan oleh Pemprov Sumatera Utara. Tapi ikut terus menerus mendampingi Bang Sabam selama kunjungan di Medan. Bahkan ikut menemani bermalam bersama Bang Sabam menginap di Guest House Pemprov Sumut di Jalan Tengku Daud, yang saat ini berubah menjadi rumah Dinas Wakil Gubernur Sumut.
Kemudian sejak 1987 saya putus kontak dengan Bang Sabam, karena saya sudah direkrut menjadi Wartawan Majalah Berita Minggu TEMPO Biro Medan membawahi Sumut, Aceh, Riau dan Sumatera Barat, bermarkas di Medan.
Kemudian, Rabu 29 September 2021 saya mendapat kabar Bang Sabam meninggal dunia malam itu di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Kota Tangerang dengan tutup usia 85 tahun. Bang Sabam yang menikah dengan dr Sondang Sidabutar pada tahun 1969 merupakan dokter lulusan Univesitas Sumatera Utara. Bang Sabam meninggalkan 1 orang istri, 3 putra, 1 putri, 4 menantu dan delapan cucu.
Pada Minggu 3 Oktober 2021, jenazah Bang Sabam dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Selamat Jalan Bang Sabam. ***
