Sudewo, Syahroni dan RAKYAT, Emosional yang Terputus

Kobu

Jacobus K Mayong Padang/Institut Marhaèn

SAYA terbangun dini hari dan ternyata sebagian besar dari hampir 100 GWA di HP saya yang sering macet, masih aktif. Beberapa di antaranya saya buka dan ternyata sama, menayangkan info terkini baik di Jakarta, Bandung dan kota-kota lainnya; Bengkulu Medan, Jogya, Surabaya, Makassar. Mengèrikan̈ Mungkin saja ada ada info di grup lain yang belum sempat saya buka.

Bacaan Lainnya

Di beberaoa grup saya baca sejumlàh analisa tentang situasi, termasuk siapa di belakang kerusuhan. Macam-macam pendapat, bahkan ada yang mencoba menyebut kelompok yang sedang bermain. Dari beberapa pendapat yang tidak seragam itu, semua masuk akal., Bisa benar bisa juga tidak.  Ada yang hanya kebetulan, ada yang memang erat kaitannya, namun tentu ada juga buzzer yang berusaha mengalihkan gejolak emosi masyarakat untuk menyelamatkan kelompoknya/dukungannya.

Apapun alasan yang dikemukakan, baik yang sifatnya analisa akademik, analisa mendalam, spekulasi, pengalihan isu, tentu ada akar masalahnya. Masalah utama sekarang ini, tidak lain kesulitan ekonomi yang sedang mengekang bagian terbesar penduduk negeri ini.

Di forum resmi, lewat pidato, sambutan pejabat bisa saja mencuatkan harapan besar. Bisa menyajikan kesimpulan yang indah tetapi kondisi riil di lapangan jauh berbeda. BPS boleh menyajikan pertumbuhan ekonomi 5,12% lalu ramai-ramai sejumlah pengamat mempertanyakan keabsahan data tersebut.

Saya pun kaget mendengar pidato Bapak Presiden Prabowo di depan DPR RI bahwa angka kemiskinan menurun tanpa menyebutkan angkanya namun kenyataan yang sesungguhnya pengangguran bertambah karena PHK dan karena warung, kios banyak yang tutup. Dan inilah salah satu masalah yang sesungguhnya, di tingkat elit keadaan digambarkan cukup bahkan sangat baik sementara di tingkat bawah sedang kesulitan dan tidak ada tempat untuk mengadu.

Contoh konkretnya; Presiden Prabowo juga dalam pidatonya di sidang DPR menyatakan stok beras 4 juta ton lebih dan itu disebutnya terjadi untuk pertamakalinya karena produksi beras melimpah. Tetapi di sejumlah pasar harga beras justru naik. Kenaikan berapapun tentu tidak masalah bagi kalangan yang berduit tetapi di tingkat bawah, di akar rumput, kalangan Marhaen yang jumlahnya puluhan juta kenaikan sedikit saja sudah mencekik. Yah, jelas mencekik karena pendapatan mereka bukannya bertambah tetapi justru sedang menurun.

Dan dalam keadaan kaum Marhaen sedang tercekik itu, mereka menyaksikan Kejaksaan Agung dan belakangan KPK juga menyusul, menjejer mobil-mobil mewah sitaan dari beberapa koruptor yang bernasib sial. Sial karena mereka terendus sementara mungkin banyak yang masih bebas berkeliaran. Dan, setelah mereka terperangah menyaksikan mobil dan rumah mewah bahkan duit yang ditumpuk layaknya sebuah panggung di Kejaksaan Agung, mereka tambah kaget menyaksikan anggota DPR RI asyik berjogetria.

Ilustrasi l Repro

Elit yang arogan

Dalam keadaan ekonomi yang sulit, RAKYAT ( saya membiasakan menulis RAKYAT dengan huruf kapital sebagai pemaknaan bahwa RAKYAT adalah komponen utama dan terpenting dalam kehidupan bernegara dan karena itu harus mendapat perhatian yang serius ) berharap ada yang menyapa dengan kelembutan dan berjuang melepaskan̈ mereka dari ķesulitan yang sedang mengĥimpit.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Di Pati, ketika RAKYAT yang sudah tidak tahan berusaha mengekspresikan kesulitannya, justru ditantang bupatinya. “Jangankan lima ribu, lima puluh ribu pun saya tidak akan mundur” ucap Sudewo, Bupati Pati datar tanpa beban. Hal yang sama di tingkat Nasional. Ketika RAKYAT datang ke DPR RI mengungkapkan kekesalannya terhadap DPR, Sahroni, Wakil Ketua Komisi III justru menantang. Merasa amat berkuasa berdiri di tengah para pejabat lain, ia bahkan menyebut RAKYAT yang mengeritik DPR dengan ucapan yang sangat menghina.

Sudewo dan Sahroni hanyalah representasi pejabat di negeri ini yang sedang “mabuk kekuasaan”. Dan karena mabuk, lalu lupa, mengapa ia menjadi bupati dan anggota DPR RI. Benarlah ucapan seorang warga Pati, Sudewo berbeda ketika berkampanye. Saat itu menemui RAKYAT dengan senyum manis dengan seribu janji yang indah.

Tentu juga Sahroni demikian saat sedang berkanpanye. Keduanya setelah terpilih bukannya berusaha mewujudkan apa yang telah dijanjikan tetapi justru menantang dengan sikap dan bahasa yang arogan dan menghina. Sekali lagi, Sudewo dan Sahroni hanyalah perwakilan. Sikap arogan, angkuh,melecehkan bahkan menghina RAKYAT yang dipertontonkan kedua pejabat itu dan memicu kemarahan RAKYAT adalah sikap mayoritas pejabat di negeri ini.

Itulah sebabnya penduduk yang miskin bertambah banyak karena nayoritas pejabat di negeri ini tidak serius nengurus RAKYAT-nya. Yang terjadi mereka sibuk memburu kedudukan untuk selanjutnya memburu materi. Maka tidak heran setiap pejabat yang tertangkap, pasti punya mobil mewah yang disita atau rumah atau uang yang bertumpuk.

Emosional yang terputus

Laku, sikap dan ucapan Sudewo dan Sahroni adalah laku, sikap dan ucapan mayoritas pejabat di negeri ini. Pengecualian, maaf dan hotmat kepada segelintir pejabat setia, tulus dan jujur mengabdi. Tipe yang segelintir ini umumnya sulit mendapatkan posisi. Kalaupun dapat pasti tidak langgeng dan akhirnya ke pinggir. Tapi itu segelintir. Yang mayoritas yang berebut fasilitas mewah dan hidup hedon. Amat jauh dari perihidup para pendiri bangsa yang jujur dan sangat sederhana. Padahal para pendiri bangsa itu tidak dipilih.

Sementara yang sekarang justru pilihan RAKYAT. Sayangnya setelah terpilih mereka berubah sikap. Mereka menjadi penguasa dan karena itu tidak mau dikritik malah menantang dengan sikap arogan. Emosional mereka kepada RAKYAT berubah drastis, berbeda saat fase kampanye mengibah untuk dapat suara RAKYAT. Karena itu wajar jika RAKYAT sang pemilik suara marah.

l Konsisten sangat mahal l Pragmatisme selalu temukan alasan.

Kalibata, tigapuluhdelapanduanoldualima

#RAKYATmarah #RAKYATmenderita #konsistenmahal

Pos terkait