formatnews.id – Sabar Mangadu Tambunan, akrab dipanggil dengan Sabar Mangadoe, menegaskan bahwa Kelompok Relawan Politik hanya di saat pemilu dan pilkada diselenggarakan, demikian penegasan salah satu pendiri BARA JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) yang didirikan pada 15-16 Juni 2013 di Gedung Asia-Afrika ( Gedung Merdeka) Bandung.
Namun, ujar Sabar kepada formatnews.id, dari Jakarta, Kamis (17/12/2025), setelah Jokowi sah menjadi presiden terpilih, pada tanggal 02 Oktober 2014, persisnya 18 hari sebelum dilantik, saya jumpai beliau di Balai Kota Jakarta. Saya minta Jokowi bubarkan semua kelompok Relawan Jokowi. Karena Presiden tidak boleh punya “Centeng”. Presiden tidak boleh punya Relawan Politik. Karena presiden harus untuk semua rakyat tanpa terkecuali.
Saat itu saya beri argumen subtansif, jangan Indonesia nanti seperti kejadian di Thailand yang dimulai tahun 2005 lalu. Terbentuk Relawan Merah ( Thaksin) dan Relawan Kuning ( kaum borjuis) yang permanen yang terpolarisasi dan ter-fragmentasi secara keras sampai kini.
Untungnya, lanjut Sabar, Thailand punya raja yang dihormati oleh rakyat, sehingga tidak jua terjadi Perang Saudara. Dan karena Indonesia tak punya raja, maka akan berbahaya ke depan.
Saat itu Jokowi langsung setuju, namun beberapa hari sebelum dilantik, dalam sebuah acara syukuran relawan, Jokowi bilang Relawan Jangan Bubar. Jokowi Ingkar Janji !! Sejak saat itu, saya konsisten 100% BARA JP lansung tinggalkan. Namun BARA JP diteruskan teman-teman. Itu memang hak mereka untuk melanjutkan.
Kata Sabar Mangadoe, dulu sejak Pemilu 2014 saya sengaja “nyantri” kepada Gus Sholah, Buya Syafii Maarif dan Sabam Sirait. Prof Mahfud MD menjadi sahabat saya berawal dikenalkan oleh Gus Sholah & Buya Syafii. Saya alumni ITB/Sipil angkatan 1982, umur baru 63.
Salam Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika Bagi kita semua, Nuwun Sewu, Mauliate, ujar Sabar dengan penuh kesabaran. ***
Efendy Naibaho
